Selasa, 10 Agustus 2010

Kualitatif: Teknik Keabsahan Data

I. Alasan dan Acuan



Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) menurut versi “positivisme” dan disesuaikan dengan tuntutan pengetahuan, kriteria dan pardigmanya sendiri. Mula-mula hal itu harus dilihat dari segi kriteria yang digunakan oleh nonkualitatif. Istilah yang digunakan oleh mereka antara lain adalah “validitas internal, validitas eksternal dan reliabilitas”.



Pertama, validitas internal yang dinyatakan sebagai variasi yang terjadi pada variabel terikat dapat ditandai sejauh variasi pada variabel bebas dapat dikontrol. Karena banyak faktor yang mungkin berpengaruh dalam suatu hubungan sebab akibat maka digunakan control atau randomisasi sebagai upaya mengisolasi variabel bebasnya. Kedua, validitas eksternal menurut Cook dan Campbell ialah perkiraan validitas yang diinferensikan berdasarkan hubungan sebab akibat yang diduga terjadi, dapat digeneralisasikan pada dan di antara ukuran alternative sebab akibat dan di antara jenis orang, latar dan waktu.

Ketiga, reliabilitas menunjuk pada ketaatasan pengukuran dan ukuran yang digunakan. Pengetesan reliabilitas biasanya dilakukan melalui replikasi sebagaimana yang dilakukan terhadap pengukuran butir-butir ganjil-genap, dengan jalan tes retes, atau dalam korelasi bentuk parallel. Teknik ini harus betul-betul dilakukan jika menginginkan alat pengukuran yang benar-benar reliable. Persoalan yang dihadapi biasanya tidak mudah karena ancaman-ancaman seperti tindakan peneliti yang kurang hati-hati dalam proses pengukuran, instrument penelitian yang tidak sempurna, pengukuran yang berlangsung tidak terlalu lama, berbagai macam kebingungan, dan faktor-faktor lainnya.



Uraian tersebut di atas memberikan kesan bahwa dari segi validitas dan reliablitas, bila tidak dilakukan dengan tepat dan benar serta secara lebih hati-hati, ancaman terhadap pengotoran hasil penelitian akan benar-benar menjadi kenyataan. Uraian tersebut menyatakan banyaknya kelemahan dari penggunaan ukuran validitas dan reliabilitas dari tinjauan kaca mata nonkualitatif itu sendiri. Dilihat dari sisi yang lain, penelitian kualitatif dengan paradigma alamiahnya yang berbeda dengan paradigma nonkualitatif jelas tidak dapat menggunakan kriteria validitas dan reliabilitas tersebut. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Lincoln dan Guba yang menyatakan bahwa dasar kepercayaan yang berbeda mengarah.pada tuntutan pengetahuan dan kriteria yang berbeda. Berdasarkan hal-hal tersebut maka paradigma alamiah menggunakan kriteria yang tentunya disesuaikan dengan tuntutan inkuirinya sehingga pendefinisian kembali kriteria tersebut merupakan tuntutan yang tidak dapat diletakkan. Pendefinisian kembali itu jelas mengarah pada teknik control atau pengawasan terhadap keabsahan data yang perlu pula direformulasikan.

Uraian kriteria dan teknik pengawasan keabsahan data yang dikemukakan mengacu pada apa yang telah dikemukakan di atas, terutama untuk keperluan mereformulasikannya agar benar-benar sesuai dengan paradigma yang dianutnya sendiri.

1. Kriteria Keabsahan Data

Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan ada empat kriteria yang digunakan yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (konfirmability).

a. Kriterium Derajat Kepercayaan

Penerapan kriterium derajat kepercayaan pada dasarnya menggantikan konsep validitas internal dari nonkualitatif. Kriterium ini berfungsi:pertama, melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai; kedua, mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan membuktikan oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.

Pada dasarnya menggantikan konsep validitas internal dari non kualitatif. Kriterium ini berfungsi (1) melaksanakan inquiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai, (2) mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.

b. Kriterium Keteralihan

Hal ini berbeda dengan validitas internal dari non kualitatif. Konsep validitas itu menyatakan bahwa generalisasi suatu penemuan dapat berlaku atau diterapkan pada semua konteks dalam populasi yang sama atas dasar penemuan yang diperoleh pada sampel yang secara representatif mewakili populasi itu, sedangkan keteralihan sebagai persoalan emperis tergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan penerima.

c. Kriterium Kebergantungan

Merupakan suatu substitusi istilah realibilitas dalam penelitian yang non kualitatif. Pada acara non kualitatif, realibitas ditunjukkan dengan jalan menadakan replikasi studi. Jika dua atau beberapa kali diadakan pengulangan suatu studi dalam suatu kondisi yang sama dan hasilnya secara esensial sama maka dikatakan realibitasnya tercapai. Persoalan yang amat sulit dicapai disini adalah bagaimana mencari kondisi yang benar-benar sama.

d. Kriterium Kepastian

Kriterium kepastian berasal dari konsep objektifitas menurut non kualitatif. Non kualitatif menetapkan objektifitas dari segi kesepakatan antara subjek. Di sini pemastian bahwa sesuatu itu objektif atau tidak bergantung pada persetujuan dari beberapa orang terhadap pandangan, pendapat dan penemuan seseorang. Dapatlah dikatakan bahwa pengalaman seseorang itu subjektif sedangkan jika disepakati oleh beberapa atau banyak orang barulah dapat dikatakan objektif.

Jika non kualitatif menekankan pada orang maka penelitian alami menghendaki agar penekanan bukan pada orangnya, melainkan pada data. Dengan demikian kebergantungan itu bukan lagi terletak pada orangnya melainkan pada datanya itu sendiri. Jadi, isinya disini bukan lagi berkaitan dengan ciri penyidik melainkan berkaitan dengan ciri-ciri data.



II. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Ada 4 kriteria dalam mencapai keabsahan data. Beberapa teknik dapat dilakukan untuk memenuhi kriteria tersebut, yakni:

Kriteria Teknik Pemeriksaan

1. Kredibilitas (1) perpanjangan keikutsertaan

(2) ketekunan pengamatan

(3) triangulasi

(4) pengecekan sejawat

(5) kecukupan referensial

(6) kajian kasus negatif

(7) pengecekan anggota

2. Keteralihan (8) uraian rinci

3. Kebergantungan (9) audit kebergantungan

4. Kepastian (10) audit kepastian



1. Perpanjangan keikutsertaan

Perpanjangan keikutsertaan peneliti akan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan. Peneliti dengan perpanjangan keikutsertaannya akan banyak mempelajari “kebudayaan” dapat menguji ketidakbenaran informasi yang diperkenalkan oleh distorsi, baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari responden, dan membangun kepercayaan subjek. Dengan demikian, penting sekali arti perpanjangan keikutsertaan peneliti itu guna berorientasi dengan situasi, juga guna memastikan apakah konteks itu dipahami dan dihayati.

2. Ketekunan pengamatan

Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan cirri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Dengan kata lain jika perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengematan menyediakan kedamaian.

3. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan kebsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya. Denzin (1978) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori.

4. Pengecekan sejawat

Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat. Teknik ini mengandung beberapa maksud sebagai salah satu teknik pemeriksaan keabsahan data.

5. Kecukupan referensisi

Konsep kecukupan referensial ini mula-mula diusulkan oleh Eisner (Moleong, 2002) sebagai alat untuk menampung dan menyesuaikan dengan kritik tertulis untuk keperluan evaluasi.

6. Kajian kasus ngatif

Teknik analisis kasus negative dilakukan dengan jalan mengumpulkan contoh dan kasus yang tidak sesuai dengan pola dan kecenderungan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan pembanding.

7. Pengecekan anggota

Pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam proses pengumpulan data sangat penting dalam pemeriksaan derajat kepercayaan. Yang dicek dengan anggota yang terlibat meliputi data, kategori analitis, penafsiran, dan kesimpulan.

8. Uraian rinci

Teknik ini menuntut peneliti agar melaporkan hasil penelitiannya sehingga uraiannya itu dilakukan seteliti dan secermat mungkin yang menggambarkan konteks tempat penelitian diselenggarakan.

9. Audit kebergantungan dan kepastian

Auditing adalah konsep bisnis, khususnya di bidang fiscal yang dimanfaatkan untuk memeriksa kebergantungan dan kepastian data. Hal ini dilakukan baik terhadap proses maupun terhadap hasil atau keluaran.



III. Kesahihan dalam Penelitian Kualitatif

Kesahihan dalam penelitian kualitatif terdiri atas dua jenis, yaitu:

a) Kesahihan internal (internal validity).

b) Kesahihan eksternal (eksternal validity)

1. Pengertian Objeksitivitas

Objektivitas dalam penelitian kualitatif memandang bahwa penelitian merupakan proses social yang syarat nilai. Nilai-nilai tersebut dapat berupa nilai-nilai peneliti, nilai-nilai instrinsik, paadigma dan teori yang digunakan, dan nilai-nilai dalam situasi tempat penelitian. Nilai-nilai tersebut adakalanya saling menunjang atau saling manafikan.

Pada penelitian kualitatif, objektivitas penelitian bukan terletak pada bagaimana membebaskan penelitian dari nilai-nilai, melainkan bagaimana peneliti menyadari, mengindentifikasikan, dan mendeskripsikan adanya pengaruh nilai-nilai itu dalam penelitiannya. Cara lain untuk memahami konsep objektivitas ialah mempertentangkannya dengan konsep subjektivitas, dan dalam penelitian kualitatif objektivitas diartikan sebagai fenomena public atau persetujuan lintas subjek.

Penelitian kualitatif yang menempatkan soal objektivitas atau subjektivitas dalam data, dimana data penelitian merepresentasikan titik temu antara peneiti dan realita sebagaimana dikonstruksikan oleh responden. Pandangan kualitatif, subjektivitas merujuk pada penelitian yang tidak andal, bias, dan opini semata. Peneliti kualitatif berasumsi bahwa penelitian yang objektif adalah penelitian yang dapat dikonfirmasikan atau terkonfirmasikn dlam hal data kasar, hasil reduksi dan analisis dta, hasil rekonstruksi dan sintesis, catatan proses, material yang terkait dengan hajat dan disposisi, dan informasi pengembangan instrumen. Oleh karena itu, penelitiankualitatif yang memenuhi kriterium kesahihan internal, kesahihan eksternal dan keterandalan.

2. Kesahihan Internal

Peneliti kualitatif berkewajiban untuk mengungkap atau merekonstruksi kompleksitas realita secara holistic sebagaimana dikonstruksikan oleh responden, dengan segala bentuk saling pngaruh di dalamnya. Tidak semua faktor pengancam sebagaimana dikemukakan Campbell dan Stanley perlu diwaspadai. Faktor seleksi-seleksi pembeda dan kegagalan pembeda tidak menjadi masalah karena memang tidak ada dua substansi yang sama persis.

Faktor kematangan dan kebermaknaan interaksi antara peneliti dengan subjek penelitian memang perlu diwaspadai. Hal ini bisa diatasi jika penelliti kualitatif dapat menggunakan waktu secara cukup di lapangan, sehingga kriterium kesahia internal mengharapkan peneliti kualitatif untuk melaksanakan penelitian yang dapat merekonstruksi kompleksitas realita, secara holistik sebagaimana dikonstruksikan oleh responden. Peneliti kualitatif harus bisa mendemonstrasikan bahwa rekonstruksinya kredibel, yakni dapat dikonfirmasikan atau terkonfirmasi oleh konstruksi realita yang dibuat responden.

Menurut Bogdan dan Biklen ada lima teknik yang dapat digunakan untuk menghasilkan produk penelitian kualitatif yang memenuhi kriterium kesahihan internal. Kelima teknik itu adalah:

a. Aktivitas mempertinggi peluang mendapatkan temuan yang kredibel (activities increasing the probability)

Krediabilitas temuan penelitian harus menjadi komitmen kerja secara taat asas bagi peneliti kualitatif. Tradisi kerja penelitian kualitatif yang dipadukan dengan kata kunci, seperti ”jadilah”, ”cukuplah”, ”sudahlah”, ”masih ada kurangnya, tapi biarlah”, dsb, harus dihapus. Ada tiga cara yang dapat dipakai untuk melaksanakan aktivitas yang dapat mempertinggi peluang untuk mendapatkan penelitian yang kredibel atau memenuhi tingkat kredibilitas tertentu. Ketiga cara yang dimaksud adalah:

a) Keterlibatan peneliti secara cukup (prolonged engagement) di lokasi penelitian dan dalam berinteraksi dengan subjek penelitian.

b) Ketelitian dalam pelaksanaan observasi (persistent observtion) secara partisipatif.

c) Triangulasi peneliti terutama bagi penelitian yang dilakukan secara kelompok

b. Olah otak secara intensif dengan sejawat (peer debriefing)

Ketika sekelompok calon peneliti sepakat bergabung untuk menyusun proposal penelitian, kesepakatan itu harus dibarengi dengan komitmen bersama untuk memberi urunan, sejak proposal disusun hingga penelitian selesai. Bahkan, ketika hasil penelitian itu didesiminasikan melalui forum seminar atau dipublikasikan melalui jurnal tiap-tiap anggota kelompok penelitian harus mengambil andil dalam kegiatan itu. Mereka harus bekerja secara sinergis dan saling mengisi satu sama lain. Melalui hubungan yang sineris itulah, proses olah otak secara intensif dengan sejawat dapat dilakukan.

c. Analisis kasus negatif (negative case analysis)

Langkah-langkah operasional pelaksanaan analisis kasus negatif adalah:

a) Rumuskan hipotesis kerja

b) Himpun informasi lapangan yang tidak sesuai dengan hipotesis kerja

c) Sempurnakan hipotesis kerja dengan informasi kasus negatif

d) Himpun data-data yang tidak sesuai dengan hipotesis kerja baru

e) Aktivitas perhimpunan fenomena lapangan terus dilanjutkan hingga ditemukan hipotesis kerja yang bebas dari segala bentuk pengecualian

d. Ketepatan rujukan (referential adequacy)

Ketepatan rujukan bermakna sebagai teknik yang mengharuskan peneliti untuk bisa menghasilkan material data yang memuat segala informasi yang telah diperoleh di lapangan. Kegiatan ini mencakup hal-hal sebagai berikut:

a) Pembuatan catatan data lapangan

b) Pengeditan rekaman kaset

c) Pembuatan transkrip wawancara

d) Pengambilan gambar

e) Pembuatan sketsa, dll

e. Pengecekan ke responden (member checking)

Pengecekan data pada responden adalah proses pengujian atas persesuaian antara rekonstruksi peneliti dan konstruksi rssponden tentang realita yang menjadi fokus penelitian.

3. Kesahihan Eksternal

LeComte & Goets menyebutkan empat faktor pengancam kesahihan eksternal dalam penelitian kualitatif, yaitu:

a. Pengaruh seleksi (selection effect), yang responden terpilihnya tidak mempresentasikan populasi yang dikonstruksikan. Misalnya, peneliti ingin arena mengetahui kebijakan akademik pada sebuah universitas. Karena sebagian besar pejabat akademik tidak dapat dihubungi peneliti ketika melakukan tugas lapangan, peneliti secara apa adanya melakukan wawancara terhadap orang-orang yang bisa ditemuinya di universitas itu. Contoh lain, seorang penelit ingin mengetahui tekanan psikologis yang dihadapi oleh hakim yang memutuskan sebuah perkara, ketika pada saat persidangan banyak demonstran memberi dukungan terhadap terpidana, sementara terpidana sendiri adalah ”orang penting” di daerah itu. Karena tidak sempat melakukan wawancara dengan hakim yang menyidangkan perkara, dia meminta siapa saja yang ada di ruang sidang untuk mereka reka tekanan psikologi yang dialai oleh hakim itu.

b. Pengaruh situasi tempat penelitian (setting effects), terdapat fakta bahwa temuan penelitian semata-mata merepresentasikan situasi tempat penelitian. Misanya, ketika peneliti mengobservasi sebuah sekolah di daerah terpencil, ternyata ditemukan bukti-bukti bahwa atap sekolah itu bocor, dindingnya lapuk, papan tulis kusam, kursi belajar anak-anak sebagaian besar rusak, dan sebagainya.

c. Pengaruh sejarah (historical effect), fakta bahwa temuan penelitian merepresentasikan keunikan pengalaman sejarah. Misalnya, jika seorang jaksa ditemukan menerima suap, peneliti merefleksikan bahwa jaksa-jaksa terdahulu juga seperti itu.

d. Pengaruh konstruk (construct effect), fakta bahwa konstruk penelitian hanya bersesuaian dengan responden dengan penelitian. Misalnya, jika peneliti memiliki persepsi bahwa tingkat pengetahuan umum dan daya cerna.

Keempat pengancam kesahihan eksternal dalam penelitian kualitatif di atas perlu diatasi. Keberhasilan peneliti mengtasi empat sumber kesalahan ini merupakan penentu bagi kesahihan eksternal penelitiannya. Ada beberapa alasan pokok dalam hubungan yang salig mereduksi terhadap kesahihan internal, yaitu:

a. Konsep populasi itu sendiri seringkali kabur dan sangat bergantung pada definisi operasional yang dibuat peneliti.

b. Konsep generalisasi bertolak dari aksioma bahwa ada hukum di lapangan pendidikan, sosial, hukum, kesehatan, dan lain-lain yang bersifat permanen dan menurut ruang dan waktu.

c. Jika dalam halnya, tanggung jawab pokok peneliti bukan bagaimana supaya hasil penelitiannya dapat diterapkan oleh orang lain, melainkan bagaimana mendeskripsikan situasi tempat penelitian secara lengkap dan detail.



IV. Keterandalan

Kata lain dari keterandalan adalah realibilitas, tetapi karena merupakan penelitian kualitatif maka digunakan kata keterandalan. Pada penelitian kualitatif keterandalan penelitian hanya mungkin jika realita diponstulasikan sebagai sesuatu yang pasti dan tidak dalam keadaan berubah, selain itu diperlukan pandangan keteradalan alternatif yang bersesuaian dengan aksioma kualitatif bahwa realita bersifat kompleks dan selalu dalam keadaan berubah, dimana membutuhkan desain penelitian di sepanjang keberlangsungan penelitian. Tujuan dari penyempurnaan penelitian ini dimaksudkan untuk menjaring fenomena yang diperlukan.

Pandangan tersebut di atas tidak menimbulkan masalah di tingkat pelaksanaan karena instrumen penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri, sehingga lebih dimungkingkan untuk mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi dalam situasi tempat penelitian. Cara-cara pengambilan data yang dinilai tidak sesuai segera diganti dengan cara yang baru yang lebih sesuai.

Paradigma kualitatif mengembangkan konsepsi alternatif bahwa keterandalan penelitian tidak terletak pada bisa atau tidaknya direplikasi oleh peneliti yang bersangkutan atau oleh peneliti lain. Keterandalan peneliti harus diartikan sebagai penelitian yang dapat dipercy dan dilaksanakan dengan penuh ejujuran. Ini berarti bahwa semua material peneliti seperti catatn data lapangan, fotografi dan dokumen harus bisa dicek akurasinya, baik dalam hal proses pembuatannya maupun materialnya sendiri.



V. Jurnal Refleksi dan Kesahihan Penelitian

Jurnal refleksi yang dimaksudkan di sini adalah catatan harian yang dibuat peneliti yang menginformasikan pengalaman peneliti (refleksi diri) dan metode yang digunakan. Refleksi diri dapat menginformasikan banyak hal kepada peneliti karena peneliti sendiri bertindak sebagai instrumen penelitian. Secara teknis, unsur-unsur yang dapat dimasukkan dalam jurnal reflektif adalah:

a. Jadwal dan logistik penelitian dari hari ke hari.

b. Catatan pribadi yang memuat perasaan, yang merefleksikan kepentingan dan nilai peneliti, dan spekulasi yang dibuat oleh peneliti.

c. Metodologi yang memuat keputusan metodologik dan landasan rasionalnya.



Daftar Pustaka

Danim, S. 2002. Menjadi Peneliti Kulitatif. Bandung: Pustaka Setia.

Dewi, E.M.P. 2007. Diktat Penelitian Kualitatif. Makassar: UNM.

Moleong, L. . 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar